Blog & News

Jejak "Meneer" di Kayu Aro


KAYU Aro adalah hamparan tanaman teh berpagar Gunung Kerinci di sekelilingnya. Keindahan alam sejauh mata memandang dan kesejukan hawa pegunungan membuat perjalanan ke perkebunan teh Kayu Aro dari Padang, Sumatera Barat, selama sekitar enam jam tak membuat hati gentar.


"Walaupun Kayu Aro termasuk Provinsi Jambi, jarak tempuhnya lebih dekat dari Padang. Dari Jambi ke Kayu Aro dengan perjalanan darat perlu waktu sekitar 10 jam," kata Legimin (49), karyawan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI Unit Usaha Kayu Aro di Kecamatan Kayu Aro Barat, Kabupaten Kerinci.


Apalagi di sepanjang perjalanan dari Padang menuju Kayu Aro ada beberapa obyek wisata alam, misalnya Danau Kembar dengan gradasi biru kehijauan airnya yang tenang. Hanya dengan melongokkan kepala sedikit, lewat jernihnya air kita bisa melihat tanaman dan ikan-ikan kecil di bawahnya.


Perpaduan pemandangan di sekitar Danau Kembar yang terletak di kaki Gunung Talang itu pun berbeda-beda. Ada lokasi dengan perpaduan kebun sayur-mayur, Danau Kembar, dan Gunung Talang, lalu Danau Kembar yang seakan dipisahkan dari Gunung Talang oleh jajaran pohon-pohon cemara yang menjulang.


Di sisi yang berbeda, mata kita seakan tak puas-puas memandang paduan birunya langit, ketenangan air danau, serta kokohnya gunung dan tanaman belukar yang tumbuh liar di sekitarnya. Tanaman belukar yang menghalangi langkah kita untuk menyentuh air Danau Kembar.


Melewati jalan yang berkelok-kelok, dengan lebar jalan hanya cukup untuk dua kendaraan dari arah berlawanan, pengemudi harus berhati-hati dan tak bisa memacu kendaraannya. Apalagi di beberapa bagian jalan ada tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan di pinggir lembah tanpa besi pengaman di sisinya.


Kebun Liki


Jika memiliki cukup waktu, sesampai di Desa Sei Lambai, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Sumbar, kita bisa mampir di kebun teh Liki. Keberadaan kebun yang dikelola Mitra Kerinci ini langsung menarik mata kita dengan tulisan besar ”Kebun Teh Liki-Solok Selatan”.


Kebun teh seluas sekitar 2.000 hektar ini terbentang di pinggir jalan Padang-Kayu Aro dan menghasilkan teh hitam, teh hijau, dan teh putih.


”Sesuai permintaan pasar, kami fokus pada teh hijau. Kalau semula kapasitas produksi teh hijau (Mitra Kerinci) 20 ton per hari, kini ditingkatkan menjadi 60 ton,” kata CEO Mitra Kerinci Yosdian Adi Pramono di Padang, awal Maret lalu.


Untuk memopulerkan teh Liki, Yosdian, antara lain, menggunakan media sosial. Hasilnya, Mitra Kerinci mulai mengantongi keuntungan pada 2012 setelah puluhan tahun merugi. Tahun 2015, misalnya, perusahaan ini meraih laba sekitar Rp 1,6 miliar.


Selepas dari kebun teh Liki, pemandangan di kiri-kanan jalan adalah warga yang tengah bekerja di ladang. Mereka bertanam kentang, kol, cabai, bawang merah, buncis, dan ubi. Di sela-sela kebun sayur-mayur itu berdiri pohon-pohon kayu manis, kopi, dan cokelat.


Penuh kenangan


Selain hamparan tanaman teh, di perkebunan Kayu Aro kita masih bisa melihat bangunan pabrik, rumah administratur (kini manajer) dan staf, bangunan klub (gedung serbaguna), sampai rumah sakit (kini poliklinik) peninggalan masa penjajahan Belanda.


Catatan PTPN VI Unit Usaha Kayu Aro menyebut tahun 1920 sebagai awal beroperasinya perkebunan teh yang dikelola NV Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam (HVA). Penanaman dimulai tahun 1923 dan pabrik berdiri pada 1925. Perkebunan Kayu Aro dinasionalisasikan pada 1959.


Soemardi (90-an) mengenang saat awal dia menginjakkan kaki di Kayu Aro tahun 1950-an. Lelaki asal Jombang, Jawa Timur, yang beranak pinak di Kayu Aro itu bercerita dengan penuh semangat.


”Saya masih remaja, di sini bekerja membersihkan tanaman yang mengganggu kebun teh. Saya tinggal di barak dan digaji Rp 10, lalu naik Rp 25,” kata Soemardi yang kini tinggal di Desa Sungai Asam, masih di sekitar perkebunan teh Kayu Aro.


Setiap habis gajian, sang administratur yang berkebangsaan Belanda menganjurkan para karyawan berjudi. Akibatnya, gaji mereka ludes di meja judi.


”Karena enggak punya uang, kami diberi pinjaman. Begitu terus-menerus, kami harus bekerja karena punya utang. Kami tak pernah punya uang sampai tak lagi punya pikiran mau kembali ke Jawa.”


Dia kemudian ”naik pangkat” menjadi mandor dengan senjata tongkat kayu yang ujungnya diberi baut besi. Jika ada pemetik daun teh yang melakukan kesalahan, tongkat di tangan Soemardi langsung memukul tangan si pemetik teh.


Di sisi lain, lanjutnya, selain mendapat gaji, dia juga diberi jatah beras, gula, ikan asin, minyak untuk lampu, minyak goreng, susu, kacang hijau, kain, dan teh dari pabrik Kayu Aro.


”Orang Belanda pinter bikin kami betah. Kalau mau Lebaran, ada pertunjukan wayang kulit atau wayang orang yang pemainnya, ya, karyawan Kayu Aro,” ujar Soemardi yang pensiun tahun 1980.


Ketika Indonesia mengambil alih perkebunan ini, layar tancap sering diputar sebagai hiburan bagi karyawan. ”Film-film Indonesia yang diputar seperti Ratapan Anak Tiri. Banyak juga film penyuluhan pertanian,” katanya.


Magnet perkebunan teh Kayu Aro belum pudar. Selain hamparan kebun teh dan keindahan alam sekitarnya, kisah-kisah mereka yang pernah tinggal di Kayu Aro juga menarik banyak orang untuk berkunjung.


Legimin menambahkan, beberapa kali kerabat para administratur Belanda berkunjung ke Kayu Aro. Bangunan-bangunan lama yang dipertahankan membuat imajinasi mampu menembus waktu.

(CHRIS PUDJIASTUTI)

Editor: I Made Asdhiana

Sumber: Harian Kompas


Featured Posts
Posts Are Coming Soon
Stay tuned...
Recent Posts
Archive
Search By Tags
No tags yet.
Follow Us
  • Facebook Basic Black
  • Twitter Basic Black
  • Instagram Basic Black